Alasan Memakai Baju Itu-itu Saja

Dalam suatu postingan saya kerap membaca, yang isinya kurleb begini,

“Menurut hukum fisika, tekanan berbanding lurus dengan gaya. Jadi kalau kamu merasa hidup penuh tekanan, mungkin karena kamu kebanyakan gaya.”

Apa masalahnya, wong hidup-hidup saya. Apa urusannya sama kamu? Urusin diri kamu sendiri aja belum tentu bener juga.

Sedangkan dalam hadist disebutkan,

“Kalimat yang paling Allah benci, seseorang menasihati temannya, ‘Bertaqwalah kepada Allah’, tapi ia menjawab, ‘Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi & Nasa’i)

Polemik memang. Sehingga sebagai tindakan preventif agar tidak disepelekan, kita tentu perlu berkaca dalam diri, sudahkah istiqomah melaksanakan. Jika belum, bahasanya lebih baik ditujukan sebagai ajakan. Dakwah kan mengajak. Hehe. Bukan menyuruh.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?

Baju yang Dipakai itu Ada yang Membuat!

Tidak hanya saya yang melihat bahwa trend fashion sekarang kian menjamur. Banyak model ini itu. Rasa-rasanya berbanding lurus dengan kemajuan teknologi. Apapun serba cepat berkembang. Iklan lebih banyak ditampilan di platform media digital. Karena mungkin target pasar didominasi untuk kaum pemuda ketimbang emak-emak versi tipi, seperti iklan sabun cuci dan pewangi.

Tapi tahukan, untuk mengimbangi trend fashion, banyak tenaga kerja yang dieksploitasi besar-besaran. Banyak baju-baju yang seharusnya masih bisa dugunakan dibuang. Sampah baju menumpuk, produksi kain meningkat. Bagus secara ekonomi tapi rusak secara mindset dan ideologi.

Guna memenuhi gaya dan ikut arus trend, masyarakat pada umumnya, perempuan pada khususnya berlomba-lomba ingin memiliki baju model terbaru. Agar tak ketinggalan.

Sepertinya akan lebih menawan seperti yang diiklankan – padahal tidak semua yang ditawarkan sesuai dan pas ke badan.

Bukankah sekarang marak bisnis baju secara online? Alhamdulillah jika membeli sesuai kebutuhan, tapi bagaimana yang membeli untuk mengikuti trend? sah-sah saja, itu uangnya sendiri kok, penjual juga diuntungkan. Namun pertanyaannya, haruskah mengikuti trend? Maka hukum fisika tadi berlaku. Jangan terlalu banyak gaya, agar tak banyak tekanan di dalamnya. Sesuaikan isi kantong. Toh, asal masih nyaman, muat, pantas, ya dipakai saja. Bersih, rapi, dan sopan, why not?

Ada Hisabnya

Saya rasa ini sudah tersiar dimana-mana. Bahwa bukan hanya amal kita yang dihisab, namun barang-barang yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban. Untuk apa saja barang tersebut digunakan?

Sekarang memang tidak terasa, asal punya duit, ya comot aja. Apa urusan orang ya kan? Namun mari sejenak kita berpikir kembali untuk apa kita hidup di dunia ini. Bisakah barang koleksi kita dibawa mati?

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR. Tirmidzi)

Dalam Islam tidak ada larangan membelanjakan harta pada hal yang disukai, namun apakah harta tersebut telah dibelanjakan untuk kebutuhan dan kebaikan? Lha emas dan perak yang disimpan selama setahun saja ada zakatnya ketika sampai pada nisabnya. Maka, secara tidak langsung Islam telah mengajarkan, agar apa yang kita miliki hendaklah memiliki nilai guna, tidak hanya sebatas bahan pajangan dan simpanan. Mempunyai banyak sepatu dan baju ya tidak mengapa. Asal memberi manfaat bagi diri dalam keseharian. Kalau hanya sebagai bahan koleksi lalu waktu kita dihabiskan pada hal merawat dan memandangi, bukankah ini termasuk ishraf? Berlebih-lebihan dan boros?

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27).

Kamu Tetap Menawan dengan Inner Beuty yang Kamu Miliki

Benar, mempercantik diri adalah kebutuhan dasar sebagai rasa syukur. Tapi alangkah baik tetap memperhatikan anjuran Islam. Tidak berlebih-lebihan. Saya resah dengan banyaknya trend fashion yang menampilan hijab secara kurang tepat. Berkerudung namun masih memperlihatkan bentuk dada, pinggang, kaki. Berpakaian tapi telanjang. Sedangkan dalam Alquran sangat gamblang dikalamkan, agar menutupkan kain ke dadanya. Andaikata seorang perempuan mampu melihat bagaimana cara laki-laki memandangnya, mungkin tak akan ada yang mau senonoh dalam berhijab, terlebih bagi yang berpakain terbuka. Berhijab artinya menutup dari mereka yang bukan mahromnya.

Kamu tetaplah cantik tanpa harus berlebih-lebihan mengoleksi baju terbaru, ladies, tanpa sering bergonta-ganti pakaian, baju sekali pakai, karena gengsi memakai baju itu-itu saja. Justru kamu yang tampil sederhana, apa adanya, tetap memperhatikan perpaduan warna dan acara, apapun yang kamu pakai, tetaplah cantik. Pakai baju bagus tapi suasana hati sedang galau sedih, baju bagus pun tak akan serasi dengan ekspresi begitu. Hehe.

***

Salam dariku perempuan yang tak mau ribet penampilan [F].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like