Daring, Efektifkah…?

Sejak virus covid19 dikabarkan telah menjangkit beberapa orang Indonesia pada awal Maret, penyelenggaraan pendidikan dilumpuhkan total. Sebenarnya tidak hanya pendidikan, tetapi juga sebagian besar aktifitas masyarakat, seperti ditutupnya pasar, supermarket, tempat wisata, dan jalur transportasi umum. Dampaknya tidak main-main. Kalang kabut berskala nasional dan internasional. Katanya virus ini tidak bisa hidup di Indonesia? Kata siapa, faktanya stasiun televisi dan media digital selalu memunculkan kabar terbaru penyebaran covid. Ya, ya, ya… Jangan terlalu percaya juga dengan media ya, turuti saja protokol kesehatan. Memakai masker, social distancing, dan mencuci tangan. Oke?

Disebabkan pandemi virus corona/ covid yang belum bisa diprediksi kapan akan berakhir, pemerintah akhirnya melucurkan komando untuk hidup berdampingan dengan virus covid – padahal dari lahir kita sudah hidup berdampingan sama virus dan bakteri yak, dengan nama yang lebih keren, new normal. Kehidupan dengan tatanan baru. Setelah pengap lockdown kan ya, gak boleh kemana-mana, gak punya duit juga. Hal ini menjadi angin segar sekaligus menimbulkan rasa was-was. Karena rantai penyebarannya diprediksi akan semakin besar, dan benar saja. Berulang kali dalam triwulan, selalu ada pembaharuan peraturan untuk masyarakat.

Dampak Terhadap Pendidikan

Untuk mengambil langkah agar tidak terjadi kekosongan karena KBM (kegiatan belajar mengajar) tetaplah harus berjalan, pada era new normal, kemendikbud memberlakukan sekolah daring atau online learning. Yang artinya segala bentuk pengajaran, diharuskan menggunakan media digital berbasis internet. Dilarang keras tatap muka. Kalau tak menurut, sekolah terancam akan ditutup. Wow. Padahal daring, jika tak ada internet, ya tidak bisa dilakukan. Lha wong di era begini masih ada juga lho yang gak punya HP. Jangan dikira semua pada punya. JIka sebagian besar, memang iya, namun sebagian kecil kesulitan untuk membeli. Keterdesakan ini membuat para orang tua yang hidupnya berada di bawah garis kemiskinan, merasa buntu. Ujung-ujungnya mencuri. Miris. Ada juga anak-anak yang harus naik ke gunung, agar sinyalnya tercover. Huhu. Bikin haru.

Dampak lain dari berlakunya daring adalah menguras kuota. Keputusan sekolah online learing memang memberi dampak besar. Baru punya HP, sekarang harus mikir beli kuota internet. Meskipun sebagian besar layanan operator telah memberikan diskon dan bantuan, dampak sekolah daring tidak berhenti begitu saja. Banyak dari orang tua juga mengeluhkan anaknya yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gadgetnya. Jika ditanya ngapain saja, jawabnya ya sekolah daring. Apa memang sekolah daring itu dari pagi sampai sore?

Saya yang dulu sekolah secara langsung, diterangkan pelajaran hitung, masih butuh proses pemahaman. Apalagi sekarang yang tidak boleh adanya tatap muka. Bagaimana cara siswa sekarang belajar sedang guru minim menjelaskan? Google. Anak-anak sekarang belajar dari google. Kini guru hanya berperan sebagai pendamping, pengawas saja. Karena minim jangkauan. Beberapa kali saya menjumpai guru yang isinya hanya memberi tugas saja bukan menerangkan materi. Tidak ada tanya jawab atau interaksi. Terlebih, salah besar jika sekolah daring hanya berisikan tugas dan tugas. Saya berbicara tentang anak sekolah, bukan anak kuliah, yang memang 75% cari secara mandiri, dianggap lebih dewasa. Sedang anak sekolah tingkat SD, SLTP, dan SLTA, maksimal 50% mereka masih membutuhkan pengajaran dan perhatian intens dari seorang guru. Tidak bisa dilepas begitu saja. Alhasil, para peserta didik leha-leha. Merasa tenang-tenang saja. Toh ada google. Teman yang baik yang bisa dimintai contekan. Lebih baik push rank dulu. Mengerjakan tugas nanti saja jika sudah mepet harinya. Ini fakta. Saya tinggal di daerah yang memang berseliweran anak-anak yang masih sekolah. Passion mereka untuk sekolah semakin menurun.  Para orang tua pun jika ditanya, lebih menyukai anaknya sekolah seperti dulu. Ada kepuasaan bathin saat mereka melihat anaknya berangkat sekolah memakai seragam serta mempercayakan kepada sekolah untuk mendidik anak-anaknya.

Dilema. Di sisi lain guru harus berinovasi dalam hal mengajar, orang tua yang sudah susah payah mengerahkan dana untuk pendidikan anaknya masih diharuskan mengajari anaknya belajar di rumah.

Kalau orang tuanya berlatar pendidikan dengan pengetahuan yang mumpuni mungkin masih bisa di-handle, tetapi bagaimana dengan orang tua yang mempercayakan anak sepenuhnya kepada sekolah yang memang notabennya mereka minim pengetahuan?

Video-video emak-emak yang emosi ngajar anaknya juga banyak diunggah netizen. Ya biar tau juga sih,

menjadi guru memang tidak mudah, tapi sekali lagi, bila memang telah berniat menjadi guru, sudah menjadi kewajiban untuk mendidik mereka.

Solusi Dari Berbagai Sumber

Selain menjumpai guru berbasis tugas, Saya beberapa kali juga menemukan guru yang berinovasi dalam hal mengajar secara online. Bila menggunakan aplikasi zoom terasa memberatkan, karena selain aplikasinya mempunyai size yang besar, kuota yang digunakan pun akan terpakai secara pesat, beberapa guru yang saya jumpai memanfaatkan media sosial sebagai sarana mengajar untuk anak didiknya. Semisal mengandalkan channel youtube. Para guru bisa membuat sebuah video pembelajaran secara visual yang unik, lalu mengkomunikasikannya melalui WhatsApp. Bila memang terasa tidak nyaman di depan kamera, solusi kedua bisa juga membuatkan ringkasan materi di power point agar siswa mudah memahami, atau mengadakan tatap muka secara berkala di luar ruangan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Jadi tidak melulu memberi tugas. Bayangkan sehari ada tiga mata pelajaran, dikali lima dalam seminggu yang kesemuanya adalah tugas. Peserta didik tidak akan sempat berpikir paham atau tidak yang penting sudah mengerjakan.

Di luar negeri sendiri termasuk negara asal virus corona, sekolah-sekolah dan sarana pendidikan seperti perpustakaan umum akhirnya dibuka. Namun tetap dengan memperhatikan protokol kesehatan secara ketat. Pemeriksaan suhu tubuh, memakai masker, cuci tangan dan menjaga jarak. Para siswa disediakan ruang kelas dengan jumlah terbatas serta tidak boleh duduk berdua. Jam pelajaran pun dikurangi karena dinilai lebih efektif.

Lalu, bagaimana dengan nasib anak Indonesia? Sampai kapankah daring?

Saya menulis ini karena merasa cemburu pada sektor lain (kecuali pasar karena memang bahan pangan) yang tetap membuka untuk umum sedang kegiatan pendidikan masih dibungkam, tidak boleh mengadakan tatap muka. Sedang ancamannya selalu terkait dana yang akan dikurangi bahkan pecabutan izin lembaga. Semoga lekas berhasil masa percobaan tatap muka untuk SLTA dan berlanjut untuk jenjang di bawahnya [F].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like